Ekonomi Makro Sederhana
Ekonomi Satu Pulau Satu Orang
Perekonomian paling sederhana adalah perekonomian
dimana hanya ada satu orang yang hidup di satu pulau. Bayangkanlah seseorang
bernama Bill, yang selamat pada suatu kecelakaan pesawat , dan terdampar
sendirian di suatu tempat . Di sini, individu dan masyarakat adalah satu; tidak
ada perbedaan antara masyarakat dan pribadi. Akan tetapi, hampir semua
keputusan dasar yang mencirikan perekonomian kompleks harus diambil dalam suatu
perekonomian sederhana. Yakni, meskipun Bill bisa mendapatkan apa pun yang
diproduksinya, ia masih harus memutuskan bagaimana mengalokasikan sumber daya
pulau itu, apa yang akan diproduksi, serta bagaimana dan kapan memproduksinya.
Pertama, Bill harus memutuskan apa yang ingin
ia produksi. Perhatikan bahwa kata kebutuhan tidak muncul dalam pernyataan
itu. Kebutuhan adalah tuntutan absolut, tapi kebutuhan itu lebih dari sekedar
air yang cukup, nutrisi dasar, dan tempat bernaung untuk bertahan hidup.
Kebutuhan sangat sulit didefinisikan. Apa yang menjadi “kebutuhan absolut”
untuk satu orang mungkin tidak berlaku bagi orang lain. . Dalam segala hal,
Bill harus menempatkan keinginannya dalam suatu urutan prioritas dan mengambil
beberapa pilihan.
Kemudian ia harus melihat kemungkinan. Apa yang
bisa ia lakukan untuk memenuhi keinginannya, dalam batasan pulau tersebut? Di
tiap masyarakat, tak peduli sederhana atau kompleks, kemampuan orang untuk
melakukan sesuatu itu terbatas. Dalam masyarakat dimana hanya ada satu orang ,
Bill menghadapi kendala waktu, kondisi fisiknya, pengetahuannya, keahliannya, dan
sumber daya serta iklim pulau itu.
Dengan sumber daya terbatas, Bill harus memutuskan bagaimana
menggunakan sumber daya yang ada dengan cara terbaik untuk memenuhi
tingkat-tingkat keinginannya. Makanan mungkin akan berada di urutan teratas
daftar prioritasnya. Apakah ia harus menghabiskan waktu hanya mengumpulkan
buah-buahan dan biji-bijian? Apakah ia harus berburu untuk mendapatkan makanan?
Apakah ia harus membuka lahan dan menanam benih tumbuhan? Jawaban pada
pertanyaan ini tergantung pada karateristik pulau, iklim, flora dan faunanya (apakah
ada buah dan biji-bijian disana?), tingkat keahlian dan pengetahuannya
(apakah ia tahu cara bertani?), dan preferensinya (ia mungkin seorang
vegetarian).
Biaya oportunitas Konsep pilihan terbatas dan kelangkaan adalah inti dalam disiplin ilmu ekonomi. Konsep ini bisa diterapkan ketika kita membahas perilaku individu seperti Bill dan ketika kita menganalisis perilaku banyak orang dalam masyarakat yang kompleks. Akibat kelangkaan waktu dan sumber daya, Bill tak punya banyak waktu untuk mengumpulkan buah dan biji-bijian jika ia memilih untuk berburu—ia menukar lebih banyak daging dengan lebih sedikit buah. Bill juga mengalami dilema antara makanan dan tempat berteduh. Jika Bill ingin merasa nyaman, ia mungkin akan mendirikan bangunan yang nyaman untuk ditinggali, tapi ia mungkin harus mengorbankan makanan yang mungkin ia hasilkan. Alternatif baik yang sering kita abaikan ketika menetapkan pilihan adalah biaya oportunitas dari pilihan itu. Bill kadang memutuskan untuk beristirahat, berjemur di pantai, dan menikmati sinar matahari. Di satu sisi, kesenangan ini gratis—ia tidak harus membayar untuk suasana pribadi yang ia dapatkan. Tapi nyatanya, biaya oportunitas tetap ada. Biaya sesungguhnya dari kesenangan itu adalah nilai dari sesuatu yang lain yang bisa diproduksi oleh Bill, tetapi tidak ia lakukan, selama ia menghabiskan waktu dipantai.
Ekonomi Satu Pulau Lima Orang
Sekarang bayangkanlah ada satu kapal tenggelam di tengah laut, semua penumpangnya meninggal atau hilang, kecuali empat orang yang terdampar di pulau tersebut. Jadi di pulau itu sekarang ada lima orang. Orang pertama memiliki ikan hasil tangkapannya, orang kedua memiliki beras yang dibawanya dari kapal, orang ketiga memiliki kantong tidur (sleeping bag) yang selalu dibawanya, orang keempat memiliki pisau kesayangannya, dan orang kelima memiliki radio kecil.
Untuk bertahan hidup, masing-masing orang memancing ikannya sendiri-sendiri. Tentu saja orang pertama yang telah berpengalaman memancing ikan, selalu mendapat ikan yang lebih banyak, dan beristirahat keesokan harinya. Bila ia ingin makan ikan bakar tanpa harus susah payah menyalakan api, maka ia meminjam pisau orang keempat dengan imbalan memberi sebagian ikan simpanannya. Bila ia ingin makan ikan bakar sambil mendengarkan radio, ia meminjam radio dengan memberi imbalan ikan simpanannya kepada orang kelima. Begitu seterusnya. Tidak selamanya pertukaran itu berlangsung mulus, ada kalanya ia tidak ingin meminjam pisau sedangkan orang keempat sangat memerlukan ikan. Atau ia sangat ingin beras, padahal orang kedua ingin berasnya ditukar dengan radio agar dapat berhubungan dengan dunia luar. Bukan saja tidak mulus, bahkan juga diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencari kecocokan apa yang akan ditukar dengan siapa. Keadaan ini dalam ilmu ekonomi disebut double coincidence needs yaitu pertukaran hanya dapat terjadi bila ada keinginan yang cocok antara kedua pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar