Rabu, 13 Mei 2020

DAMPAK EKONOMI MAKRO

Dampak Uang pada Sisi Permintaan: Money Illusion dan Pola Konsumsi

 

Dalam ekonomi makro islami, perbedaan pada sisi permintaan terasa ada dampaknya ketika dimasukkannya unsur uang pada teori optimalisasi. Efek akhir perubahan merupakan kombinasi dari efek substitusi dan efek perubahan pendapatan. Efek substitusi terjadi akibat perubahan harga relatif yang akan mengubah kemiringan (slope), sehingga titik singgung dengan kurva utilitas juga berubah. Sedangkan efek pendapatan terjadi akibat pergeseran budget line secara paralel. Efek substitusi dan efek perubahan pendapatan akan berbeda untuk tiap jenis barang seperti normal goods, inferior goods dan giffen goods.

 

1.      Normal Goods

 

Normal goods adalah jenis barang yang apabila pendapatan bertambah maka jumlah barang yang dikonsumsi juga bertambah. Pada normal goods, efek substitusi dan efek pendapatan bergerak secara bersamaan. Artinya, jika terjadi penurunan harga maka pergerakan efek substitusi akan menyebabkan jumlah barang yang dikonsumsi meningkat. Sebaliknya, bila harga barang naik setiap pergerakan efek substitusi maupun pergerakan efek pendapatan akan menurunkan jumlah barang yang dikonsumsi.

 

2.      Inferior Goods

 

Inferior goods adalah kebalikan dari normal goods dimana jumlah barang yang dikonsumsi akan berkurang bila pendapatan bertambah. Pada inferior goods, efek substitusi dan efek pendapatan bergerak secara berlawanan. Artinya jika terjadi penurunan harga barang X, maka harga relatif berkurang dan pendapatan rill meningkat, sehingga pergerakan karena efek substitusi akan menyebabkan jumlah barang yang dikonsumsi meningkat sedangkan pergerakan yang disebabkan oleh efek pendapatan akan menurunkan jumlah barang yang dikonsumsi.

Sebaliknya, bila harga barang X naik, maka harga relatif bertambah dan pendapatan rill berkurang, sehingga pergerakan efek substitusi akan menyebabkan jumlah barang yang dikonsumsi berkurang. Sedangkan pergerakan yang disebabkan oleh efek pendapatan akan meningkatkan jumlah barang yang dikonsumsi.

 

3.      Giffen Goods

 

Giffen goods adalalah inferior goods yang efek pendapatannya lebih besar daripada efek substitusi. Giffen goods sangat jarang terjadi didunia. Pada giffen goods, harga dan jumlah barang yang dikonsunsi berhubungan secara positif. Artinya jika harga barang naik maka jumlah barang yang dikonsumsui juga naik. Sebaliknya jika harga turun maka jumlah barang yang dikonsumsi juga turun.

Bila kenaikan pendapatan benar-benar terjadi sehingga meningkatkan daya beli, maka perubahan pola permintaan barang akan berubah sesuai dengan jenis barangnya. Untuk normal goods, permintaan keduannya meningkat, untuk inferior goods lebih kecil, permintaan keduanya juga meningkat meskipun kenaikan permintaan inferior goods lebih kecil daripada kenaikan permintaan lebih kecil, untuk giffen goods, permintaan giffen goods menurun dengan naiknya pendapatan. Namun, bila kenaikan pendapatan tersebut sekedar kenaikan nominal income, maka yang terjadi adalah money illusion. Akibatnya pola permintaan barang berubah meskipun sebenarnya tidak ada perubahan pada budget line.

Dalam konsep makro ekonomi islami, money illusion tidak akan terjadi. Pertama, bila uang yang digunakannya adalah dinar dan dirham, maka secara alami tidak akan terjadi money illusion. Kedua, bila uang yang digunakannya adalah fiat money (uang kertas, uang logam) maka syarat penggunaan uang jenis ini adalah pemerintah wajib menjaga nilainya. Artinya, pemerintah boleh menambah jumlah uang yang beredar dengan syarat nilainya tidak boleh berubah, sehingga money illusion tidak terjadi.

 

B.     Dampak Uang pada Sisi Penawaran: Money Illusion dan pilihan Teknologi

Pada sisi penawaran dampak dimasukkannya unsur uang terasa pada teori biaya khususnya ketika optimalisasi penggunaan input. Untuk mudahnya misalnya fungsi produksi hanya terdiri dari dua jenis input yaitu tenaga kerja (labor, L) dan modal (Kapital, K). Harga tenaga kerja L adalah w dan harga modal K adalah adalah r. Marjinal productivity tenaga kerja adalah MPL dan marginal productivity modal adalah MPK.

Selama MPL > w maka penggunaan tenaga kerja menguntungkan untuk terus ditambah karena tambahan 1 unit tenaga kerja menghasilkan nilai output yang lebih besar daripada harga input w. Begitu pula selama MPK > r maka penggunaan modal masih menguntungkan untuk terus ditambah karena tambahan 1 unit modal menghasilkan nilai output yang lebih besar daripada harga input r.

Sekarang katakanlah pemerintah mencetak uang baru yang menimbulkan efek inflasi sehingga terjadi money illusion. Kenaikan jumlah uang yang beredar diantisipasi oleh pekerja akan menimbulkan inflasi, sehingga pekerja menuntut adanya kenaikan gaji.

Di negara-negara berkembang termasuk indonesia juga didorong oleh proses pengalihan teknologi usang dari negara maju ke negara berkembang. Barang-barang modal seperti mesin-mesin yang telah usang teknologinya karena telah ditemukan teknologi yang lebih baru djual dengan harga murah ke negara-negara berkembang. Secara makro pertumbuhan ekonomi meningkat namun pertumbuhan pengangguran juga meningkat meskipun pertumbuhan penduduk konstan. Dalam konsep makro ekonomi islami, hal ini tidak terjadi. Karena, yang pertama bila sistem yang digunakan adalah sistem upah (ijarah atau ju’alah) maka money illusion ini tidak akan terjadi. Kedua, islam juga mengenal sistem bagi hasil yang dapat mendorong produktivitas.

 

C.      Dampak Pemerintah pada Sisi Permintaan: Keynesian Economics

Pada tahun 1936, John Maynard Keynes menjawab pertanyaan tentang penyebab Great Depression dalam bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money. Keynes menerangkan bahwa pemerintah harus melakukan campur tangan dalam mengendalikan perekonomian nasional dengan kebijakan-kebijakan secara aktif sehingga mempengaruhi gerak perekonomian. Keynes juga menyatakan bahwa bukan hanya penawaran agregat saja yang menentukan pendapatan nasional, tapi juga permintaan agregat, misalnya dengan menurunkan pajak, meningkatkan belanja pemerintah.

Pentingnya peranan pemerintah dalam perekonomian sebenarnya telah diungkapkan oleh Ibn Khaldun beratus tahun yang lalu. Ibn Khaldun mengatakan bahwa pemerintah adalah pasar terbesar, ibu dari semua pasar dalam hal besarnya pendapatan dan penerimaannya. Negara adalah faktor produksi terpenting dimana produksi bergantung pada penawaran dan permintaan terhadap produk.

Bagi Ibn Khaldun, sisi pengeluaran keuangan publik sangatlah penting. Pada satu sisi sebagian dari pengeluaran penting bagi aktivitas lain. Tanpa infrastruktur yang disiapkan oleh negara, mustahil terjadi populasi yang besar dan tanpa ketertiban dan kestabilan politik, produsen tidak memiliki insentif untuk berproduksi. Mereka takut kehilangan tabungan dan labanya karena kekacauan dalam negaranya. Pada sisi lain pemerintah menjalankan fungsi terhadap sisi permintaan pasar. Dengan permintaannya pemerintah memicu produksi. Jika pemerintah menghentikan belanjanya krisis akan terjadi. Oleh karena itu, semakin banyak yang dibelanjakan oleh pemerintah semakin baik akibatnya bagi perekonomian.

Kebijakan fiskal dengan meningkatkan pembangunan infrastuktur juga telah diterapkan pada zaman pemerintahan Khulafaur Rasyidin, antara lain di zaman pemerintahan Umar bin Khattab dimana kota Kuffah dan Basrah dibangun atas perintahnya termasuk pembangunan dan pelebaran jalan.

 

D.     Dampak Pemerintah Pada Sisi Penawaran: Supply Side Economics

Supply Side Economics adalah penciptaan insentif kepada individual dan perusahaan guna menigkatkan produktivitas. Cara yang banyak dilakukan adalah dengan pengurangan pajak sehingga memberikan insentif untuk bekerja lebih keras, berinvestasi lebih banyak. Akibatnya terjadi peningkatan agregat penawaran (aggregate supply) jangka pendek dan akhirnya peningkatan pendapatan negara serta penurunan tingkat harga. 

Peningkatan tingkat pajak akan menyebabkan bertambahnya pendapatan pajak negara. Akan tetapi setelah titik maksimum, peningkatan tingkat pajak akan menyebabkan turunnya pendapatan pajak negara, bahkan pada titik dimana pengenaan pajak adalah 100% sehingga pemerintah tidak akan memperoleh pendapatan pajak. Bila pembebanan pajak rendah, masyarakat akan termotivasi untuk bekerja lebih giat lagi sehingga tingkat produksi naik yang konsekuennya akan meningkatkan pendapatan pajak. Bila dalam memenuhi kebutuhannya pemerintah menerapkan pajak yang tinggi melebihi batas kewajaran, akibatnya motivasi masyarakat untuk bekerja turun bahkan dapat berhenti berproduksi sehingga jumlah produksi menurun yang konsekuensinya pendapatan pajak turun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar