Uang dalam pandangan Ekonomi Islam merupakan istilah untuk menyebut bagaimana keberadaan uang itu dalam sisi Ekonomi Islam. Sejatinya uang merupakan alat pertukaran, untuk transaksi, dan hal lainnya.
A. Time Value of Money
Dalam Islam tidak dikenal adanya time
value of money, yang dikenal adalah ecomonic value of time. Teori time
value of money adalah sebuah kekeliruan besar karena mengambil dari ilmu
teori pertumbuhan populasi dan tidak ada ilmu finance. Dalam menghitung
pertumbuhan populasi digunakan rumus:
Pt = Po (1 + r)
Rumus
ini kemudian diadopsi begitu saja dalam ilmu finance sebagai teori bunga
majemuk menjadi:
FV = PV (1 +r)
Jadi, future value dari uang dianalogikan dengan
jumlah populasi tahun ke-t, present value dari uang dianalogikan dengan
jumlah populasi tahuk ke-0, sedangkan tingkat suku bunga dianalogikan dengan
tingkat pertumbuhan populasi. Jelas hal ini salah, karena uang bukanlah makhluk
hidup yang dapat berkembang biak dengan sendirinya.
B. Economic Value of Time
Dalam Economic value of time misalnya
dalam menghitung nisbah bagi hasil di bank syariah. Dalam proses penentuan
nisbah ini, return on capital harus diperhitungkan. Return on capital
tidak sama dengan return on money. Return on capital tergantung
kepada jenis bisnisnya dan berkaitan dengan sektor riil, sedangkan return on
money berkaitan dengan interest rate. Penentuan nisbah bagi hasil
harus di lakukan di awal, dan untuk itu digunakan projected return. Jika
kemudian ternyata actual return dari bisnis yang dibiayai tidak sama
dengan angka proyeksinya, maka yang digunakan adalah angka aktual, bukan angka
proyeksi. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal time value money.
Time mempunyai economic value jika dan hanya jika waktu tersebut
dimanfaatkan dengan menambah faktor produksi yang lain, sehingga menjadi capital
dan dapat memperoleh return.
C. Uang sebagai Flow Concept
Dalam Islam flow concept dan capital
adalah stock concept. Semakin cepat perputaran uang, akan semakin baik.
Contohnya, pada aliran air masuk dan aliran air keluar. Sewaktu air mengalir
disebut sebagai uang, sedangkan apabila air tersebut mengendap maka disebut
sebagai capital. Wadah tempat mengendapnya adalah private goods,
sedangkan air adalah public goods. Saving harus diinvestasikan ke
sektor riil. Apabila tidak, maka saving bukan saja tidak mendapat
return, tetapi juga dikenakan zakat.
D. Uang sebagai Public Goods
Ciri dari public goods adalah
barang tersebut dapat digunakan oleh masyarakat tanpa menghalangi orang lain
untuk menggunakannya. Sebagai public goods, uang dimanfaatkan lebih
banyak oleh masyarakat yang lebih kaya. Hal ini bukan karena simpanan mereka di
bank, tetapi karena asset mereka, seperti rumah, mobil, saham, dan
lain-lain. Yang digunakan di sektor produksi, sehingga memberikan peluang yang
lebih besar kepada orang tersebut untuk memperoleh lebih banyak uang. Jadi, semakin
tinggi tingkat produksi, akan semakin besar kesempatan untuk dapat memperoleh
keuntungan dari public goods tersebut. Oleh karena itu, penimbunan (hoarding)
dilarang karena menghalangi yang lain untuk menggunakan public goods
tersebut. Jadi, jika dan hanya jika private goods dimanfaatkan pada
sektor produksi, maka kita akan memperoleh keuntungan.
E. Kerancuan Konsep Uang dalam Pemikiran
Konvensional
Pemikiran ekonomi konvensional tentang
uang beragam. Fisher menyatakan bahwa permintaan uang (money demand)
adalah fungsi dari income, sedangkan interest tidak ada
hubungannya dengan permintaan uang. Uang adalah salah satu cara untuk menyimpan
kekayaan (store of wealth), Marshall_Pigou juga menyatakan bahwa manusia
mempunyai individual choice, yaitu bagaimana dia menentukan dan
bagaimana memegang dan memelihara asetnya, apakah sebagian di bonds, di stock,
atau money, dan sebagainya. Dalam teori moneter konvensional, seseorang itu
dipengaruhi oleh tiga motif, yaitu money demand for transactions, money
demand for precautionary dan money
demand for speculation.
Bagi Keynes, money demand for
transactions ditentukan oleh tingkat pendapatan; money demand for precautionary
ditentukan oleh tingkat pendapatan; dan money demand for speculation ditentukan
oleh tingkat suku bunga. Secara matematis, hal ini dirumuskan sebagai berikut:
Mdtr =
f (Y) Mdpre = f
(Y) Mdsp =
f (i)
Sebenarnya ada kekeliruan yang dibuat
oleh Keynes, salah satunya yang juga diprotes oleh muridnya sediri, Tobin-Boumol,
masing-masing pada tahun 1953 dan 1956. Jika dipelajari pada buku Keynes,
secara implisit, ada perfect substitution antara money dan non-monetary asset.
Dilihat dari modelnya, secara implisit dia mengatakan bahwa adanya perfect
substitution antara money, bonds dan capital. Misalnya dalam teori konvensional
dan yang disebut problem of anggregation, di mana diketahui ada lima pasar,
yaitu:
1.
Consumer
Goods
2.
Labor
Services
3.
Production
(capital) Goods
4.
Bonds
5.
Money
Semua
ini akan berhadapan dengan:
1.
Prices
2.
Wages
3.
Interest
Dari variabel di atas, timbul persoalan
karena ada 5 pasar yang akan dipecahkan dengan 3 harga. Untuk memecahkan
persoalan ini, Keynes menggabungkan capital dan bonds menjadi non-monetary
asset sehingga sekarang kita mempunyai 4 pasar dengan 3 harga yang kita
ketahui. Ketika dia menggabungkan capital goods dan bonds menjadi satu nama
baru yaitu non monetary asset, disitulah kekeliruan yang akhirnya membawa
implikasi jauh ke belakang ke teori-teori yang sampai sekarang bisa kita baca di
teori Samuelson. Gabungan capital goods dan bonds diwakilkan nilainya dengan
interest. Jadi secara implisit, capital goods dan bonds dianggap perfect
substitution.
Dalam teori mikro ekonomi, titik optimal terjadi pada persinggungan antara indifferent curve dengan budget line. Keadaan perfect substitution menyebabkan utility function atau indifferent curve berbentuk garis lurus (straight line), sehingga timbul corner solution (titik optimal). Artinya, pada titik optimal, orang akan memegang seluruhnya dalam bentuk uang, atau seluruhnya dalam bentuk bonds.
