Ekonomi Satu Pulau Lima Orang dan Uang dari Langit
Sekarang bayangkanlah, ada sebuah
helicopter yang baru saja merampok bank. Untuk jejak, uang hasil rampokan
tersebut dijatuhkan ke beberapa pulau sebagai tempat penyimpanan harta
rampokan. Uang yang dijatuhkan dari helicopter tersebut (helicopter money) diantaranya jatuh di
pulau tempat kelima orang tadi, lebih tepatnya, jatuh tepat didepan orang
pertama. Katakan saja jumlah uangnya adalah M1 yaitu sebesar 1
juta rupiah. Jadi sekarang telah terjadi perubahan jadi ekonomi tanpa
uang (moneyless economy) menjadi
ekonomi uang (money economy).
Orang pertama menawarkan
kepada orang kedua, inginkah ia menukar berasnya dengan uang tersebut.
Orang kedua setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya. Beralihlah
uang tersebut kepada orang kedua.
Orang kedua menawarkan kepada
orang ketiga, inginkah ia menukar sleeping
bag nya dengan uang tersebut. Orang ketiga juga setuju asalkan
seluruh uang tersebut untuknya. Beralih pula uang tersebut kepada orang
ketiga.
Orang ketiga menawarkan
kepada orang keempat, inginkah ia menukar pisau miliknya dengan uang
tersebut. Orang keempat setuju asalkan seluruh uang tersebut
untuknya. Beralih lagi uang tersebut kepada orang keempat.
Orang keempat menawarkan
kepada orang kelima, inginkah ia menukar radio miliknya dengan uang
tersebut. Orang kelima setuju asalkan seluruh uang tersebut
untuknya. Beralih lagi uang itu kepada orang kelima.
Orang kelima menawarkan
kepada orang pertama, inginkah ia menukar ikan tangkapannya dengan uang
tersebut. Orang pertama setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya. Beralih
kembali uang itu kepada orang pertama.
Secara formal dikatakan bahwa jumlah uang yang
beredar dalam ekonomi adalah M1 (money
at time 1), berapa kali uang tersebut berpindah tangan adalah V1
(velocity of money at time 1), harga
masing-masing barang yang dipertukarkan adalah P1 (price at time 1), dan jumlah barang yang
dipertukarkan adalah T1 (goods
being traded at time 1).
Dalam contoh ini:
M1 = Rp 1 juta
V1 = 5 kali
P1 = Rp 1 juta
T1 = 5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik:
M1 x V1
=
P1 x T1
Rp 1 juta x 5 = Rp 1 juta x 5
Sekarang katakanlah, helikopter ini menjatuhkan
lagi uang sejumlah Rp 2 juta, dan jatuh lagi tepat didepan orang pertama.
Proses yang sama terjadi, orang pertama menawarkan uang tersebut kepada orang
kedua untuk ditukar dengan beras. Orang pertama setuju asalkan seluruh
uang tersebut untuknya yaitu sejumlah Rp 3 juta (Rp 1 juta pertama dan Rp 2
juta kedua). Uang tersebut beralih kepada orang kedua. Dan begitu
seterusnya sebagaimana telah terjadi sebelumnya. Perbedaannya adalah
jumlah uang beredar sekarang M2 jumlahnya Rp 3 juta. Harga
masing-masing barang pun sekarang berubah menjadi P2 yaitu Rp 3
juta. Secara formal dapat ditulis:
M2 = Rp 3 juta
V2 = 5 kali
P2 = Rp 3 juta
T2 = 5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik:
M2 x V2
=
P2 x T2
Rp 3 juta x 5 = Rp 3 juta x 5
Jadi kenaikan jumlah uang beredar ternyata telah meningkatkan harga masing masing barang. Kenaikan harga-harga secara umum ini disebut inflasi.
Dalam contoh ini juga terlihat bahwa perubahan
aspek moneter yaitu jumlah uang yang beredar, ternyata tidak membawa perubahan
apa-apa pada ekonomi riil. Jumlah barang yang dipertukarkan dalam ekonomi
tidak berubah. Pendapatan nominal setiap kali menjual barang memang naik
dari Rp 1 menjadi Rp 3 juta. Namun kenaikan pendapatan nominal itu tidak
meningkatkan daya beli uang, sehingga pendapatan riil tidak berubah. Yang
berubah adalah harga-harga barang. Dalam ilmu ekonomi keadaan ini disebut
sebagai money neutrality yaitu
perubahan yang sifatnya ’once and for all’ atas jumlah uang beredar tidak
mengubah variabel-variabel ekonomi sektor riil seperti pendapatan riil.
Bila perubahan jumlah uang yang beredar tidak hanya terjadi once and for all, namun terjadinya berulang kali dengan pola dinamis, dan ternyata tetap tidak mengubah variable ekonomi sektor rill disebut money superneutrality.
Ibnu Khaldun merumuskan superneutrality
of money ini sebagai berikut:
“Kekayaan suatu Negara tidak
ditentukan oleh banyaknya uang yang dimilikinya. Namun ia ditentukan oleh
beberapa besar kemampuan negara itu memproduksi barang dan jasa, serta
efisiensi negara tersebut dalam memproduksi”
A. Ekonomi Satu Pulau Lima Orang, Uang dari Langit dan Raja
Sekarang bayangkanlah, orang pertama sebagai orang
yang pertama kali ada di pulau itu dan paling berpengalaman menangkap ikan
serta selalu saja uang dari helikopter serta selalu saja uang dari helikopter
jatuh di depan orang pertama, menjadi orang yang paling dominan dalam
perekonomian pulau itu. Demikian dominannya sehingga keempat orang lain sepakat
menunjuk orang pertama menjadi pemimpin mereka. Ini diperlukan untuk mengatur
lokasi pemancingan masing-masing orang. Jadi, sekarang telah terjadi
perekonomian dengan pemerintah dimana orang pertama menjadi rajanya.
Ada dua perubahan penting dalam perekonomian pulau itu dengan ditunjukkannya orang pertama sebagai raja, yaitu:
1. Adanya kepemimpinan
Menurut kesepakatan dipulau itu, orang pertama mempunyai hak untuk mengatur agar kegiatan ekonomi berjalan dengan adil yaitu memastikan tidak ada satu pihakpun yang terdzalimi. Hal ini dianggap penting karena suatu hari ketika orang keempat menukar uangnya dengan radio milik orang kelima, ternyata orang kelima berbuat curang dengan menahan batere radio tersebut. Orang kelima berdalih bahwa yang ia tukarkan adalah radio, tidak termasuk batere. Sehingga terjadi keributan.
2. Adanya efektifitas kepemimpinan
Keadaan objektif yang membuat kepemimpinan orang pertama dapat berjalan efektif adalah ia mempunyai kekuatan ekonomi yang paling besar. Ia menjadi pembeli terbesar karena dengan tangkapan ikan dan uang dari helicopternya, ia memiliki daya beli besar (purchasing power) untuk dapat menukar dengan barang-barang milik orang lainnya. Ia juga menjadi penjual terbesar karena sumberdaya awal (initial endowment) yang dimilikinya berupa ikan tangkapan dan uang dari helicopter. Kefektifan kepemimpinan ini penting karena sebelumnya orang kedua berusaha menjadi pemimpin dengan beras yang dimilikinya sebagai modal kekuatan ekonominya. Orang kedua berpikir karena semua orang pasti memerlukan beras, maka sumberdaya yang dimilikinya menjadi faktor paling strategis untuk menjadi pemimpin. Namun ternyata ketiga orang lainnya makan ”daging” kelapa muda belajar dari orang pertama bagaimana mengatasi ketiadaan beras di pulau itu.
Dampak adanya kepemimpinan:
Ditunjuknya orang pertama sebagai pemimpin menimbulkan implikasi baru. Jasa yang diberikannya untuk memastikan mekanisme pasar berjalan secara adil merupakan kenikmatan yang diperoleh oleh orang-orang pulau itu. Untuk itulah mereka bersedia memberikan kompensasi kepada orang pertama penghargaan berupa uang atau barang. Uang penghargaan inilah yang kemudian dikenal sebagai pajak. Bahkan keempat orang itu bersedia membayar pajak lebih banyak bila digunakan untuk menyediakan hal-hal yang berguna bagi mereka, misalnya untuk memasang obor di pelosok pulau sehingga mobilitas mereka di malam hari menjadi lebih mudah.
Dampak adanya efektifitas kepemimpinan:
Kekuatan ekonomi yang dimiliki orang pertama
menimbulkan implikasi baru. Transaksi di pulau menjadi lebih efisien
lagi. Orang-orang selain orang pertama, kini dapat menjual miliknya
kepada orang pertama. Selanjutnya bila mereka memerlukan sesuatu, mereka
dapat memperolehnya dari orang pertama. Orang pertama telah berubah
menjadi seorang produsen, konsumen, sekaligus seorang pedagang. Sebagai
seorang pedagang, ia membeli barang untuk menjualnya lagi. Bila orang
kedua ingin menukar sesuatu, ia mendatangi orang pertama, menjual berasnya,
mendapat bayaran uang, kemudian dengan uangnya itu ia membeli sleeping bag atau
pisau, atau radio dari persediaan yang dimiliki orang pertama. Begitu
pula dengan orang ketiga dan seterusnya. Mereka membawa barang yang
mereka miliki, menjualnya pada orang pertama, kemudian membeli barang yang
mereka perlukan dari orang pertama.
B. Ekonomi Banyak Pulau, Banyak Orang, Banyak Uang, Banyak Raja
Pertama,bayangkanlah di pulau tersebut tinggal satu juta orang yang perilaku
ekonominya persis sama dengan orang pertama dan disebut sebagai masyarakat
golongan nelayan dan saat ini menguasai birokrasi pemerintahan, satu juta orang
yang perilakunya persis sama dengan orang kedua dan disebut sebagai masyarakat
golongan pertama (pangan), satu juta orang yang perilakunya sama persis dengan
orang ketiga dan disebut sebagai masyarakat golongan penjahit (sandang), satu
juta orang yang perilakunya sama persis dengan orang keempat dan disebut
sebagai masyarakat golongan tukang kayu (papan) dan ada satu juta orang yang perilakunya sama persis
dengan orang kelima disebut sebagai masyarakat golongan telekomunikasi. Karena
satu juta orang tersebut berperilaku persis sama dengan orang yang pertama, dan
seterusnya satu juta orang berikutnya persis sama dengan orang berikutnya, maka
tidak ada perubahan apapun atas analisis sebelumnya yang telah dijelaskan.
Perilaku satu atau satu juta orang yang berperilaku sama, dalam konteks
analisis perilaku makroekonomi tidak membawa perubahan apapun.
Kedua, bayangkanlah pulau yang dari tadi kita bicarakan adalah sebuah negara yang
mempunyai kedaulatan sendiri. Inipun tidak membawa perubahan apapun terhadap
analisis sebelumnya.
Ketiga, bayangkanlah uang yang jatuh dari helikopter itu adalah uang yang dicetak
oleh pemerintah negara tersebut. Anggaplah helicopter itu pabrik pencetakan
uang. Ini juga tidak merubah apapun atas analisis sebelumnya.
Sekarang bayangkanlah ternyata tidak hanya ada satu pulau, ternyata ada
banyak pulau lain. Masing-masing pulau keadaannya seperti pulau pertama, ada
lima juta orang yang perilakunya lima macam, juga ada uang namun jenisnya
berbeda pada masing-masing pulau. Di tiap pulau memiliki rajanya masing-masing.
Jadi kini bayangkanlah, ada banyak negara, dengan banyak orang, banyak
jenis uang dan masing-masing negara memiliki pemerintahan masing-masing. Namun
untuk kemudahan penjelasan, akan tetap digunakan orang pertama sampai dengan
orang kelima, helicopter money, pulau dan raja. Toh tidak mengubah
analisis.
Kita ingat kembali keadaan di pulau pertama, dimana:
M1 (Pulau 1) = Rp 1
juta
V1 (Pulau 1) = 5 kali
P1 (Pulau 1) = Rp 1
juta
T1 (Pulau 1) = 5
(ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
Untuk membedakan dengan uang antarpulau, katakanlah
uang di pulau pertama berwarna merah
semua (disebut Rp), di pulau kedua warna hijau semua (disebut (Sin $), di
pulau-pulau berikutnya berturut-turut berwarna kuning (disebut SR) dan biru
(disebut RM).
Katakanlah keadaan di pulau kedua sebagai berikut:
M1 (Pulau 2) = Sin
$200
V1 (Pulau 2) = 5 kali
P1 (Pulau 2) = Sin
$200
T1 (Pulau 2) = 5
(ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
Katakanlah keadaan di pulau ketiga sebagai berikut:
M1 (Pulau 3) = SR 3300
V1 (Pulau 3) = 5 kali
P1 (Pulau 3) = SR
3300
T1 (Pulau 3) = 5
(ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
Katakanlah keadaan di pulau ketiga sebagai berikut:
M1 (Pulau 4) = RM 330
V1 (Pulau 4) = 5 kali
P1 (Pulau 4) = RM 330
T1 (Pulau 4) = 5
(ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
Artinya, harga ikan sama, harga beras sama, harga sleeping bag, harga
pisau, harga radio di pulau pertama masing-masing adalah Rp 1 juta. Harga-harga
barang yang sama di pulau kedua adalah Sin $ 200, di pulau ketiga harganya SR
3300, di pulau keempat harganya RM 330. Atau dengan kata lain:
Rp 1 juta = Sin $ 200 = SR 3300 = RM 330
Bagi orang di pulau pertama, uang merahnya ekivalen dengan uang-uang
lain sebagai berikut:
Sin $ 1 = Rp
5000 (Rp 1 juta/Sin $ 200)
SR 1 = Rp 303 (Rp 1 juta/SR 3300)
RM 1 = Rp
3030 (Rp 1 juta/RM 330)
Sekarang katakanlah, ketika helicopter menjatuhkan lagi uang sejumlah Rp
2 juta ke pulau pertama, tidak ada uang yang dijatuhkan ke pulau-pulau lain.
Secara formal dapat ditulis:
M2 (Pulau
Pertama) = Rp 3 juta
V2
(Pulau Pertama) = 5 kali
P2
(Pulau Pertama) = Rp 3 juta
T2
(Pulau Pertama) = 5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau,
radio)
Artinya, terjadi
kenaikan harga di pulau pertama yaitu harga ikan sama, harga beras sama, harga sleeping
bag, harga pisau, harga radio di pulau pertama masing-masing adalah
Rp 3 juta. Sedangkan harga-harga barang yang sama di pulau lainnya tidak mengalami
kenaikan. Harganya tetap di pulau kedua adalah Sin $ 200, di pulau ketiga
harganya SR 3300, di pulau keempat harganya RM 330. Atau dengan kata lain:
Rp 3 juta = Sin $ 200 = SR 3300 = RM
330
Bagi orang di pulau pertama, uang merahnya ekivalen dengan uang-uang
lain sebagai berikut:
Sin $ 1 = Rp 15000 (Rp 3 juta/Sin $ 200)
SR 1 = Rp 909 (Rp 3 juta/SR 3300)
RM 1 = Rp
9090 (Rp 3 juta/RM 330)
Dalam ilmu ekonomi makro, bagi penduduk pulau pertama
yang mengalami melemahnya nilai tukar mata uang di pulau pertama disebut mata
uangnya terdepresiasi. Sedangkan bagi penduduk pulau-pulau lainnya yang
mengalami penguatan nilai mata uangnya terhadap mata uang pulau pertama disebut
mata uangnya terapresiasi terhadap mata uang pulau pertama.
Sekarang katakanlah, raja pulau pertama tidak ingin
uangnya terdepresiasi. Ketika ia menerima uang tambahan dari helicopter, ia
tidak serta merta menggunakan uang tersebut. Sebaliknya, uang tersebut ia
simpan saja sehingga uang yang beredar di pulau pertama tetap sama dengan
keadaan awal yaitu Rp 1 juta. Ini
berarti nilai tukar mata uang pulau pertama tidak mengalami depresiasi yang
berarti merupakan proses dari sterilisasi.
Dalam contoh yang lebih realistis, bayangkanlah pulau
pertama mendapat devisa SR 100 (contoh paling mudahnya di beri hibah berupa
uang) oleh pulau lainnya. Dengan uang tersebut, raja pertama dapat mengeluarkan
sejumlah uang simpanannya senilai SR 100 yaitu 3030 (100 x 303). Namun bila hal
ini dilakukannya, maka nilai tukar uangnya akan terdepresiasi. Itu sebabnya
hibah SR 100 itu disimpan saja oleh pulau pertama. Jadi dampak perubahan nilai
tukar uang akibat naiknya devisa negara disterilisasi.