Sejarah Inflasi
Emas
memberikan nilai pada suatu mata uang dan juga akseptabilitas di tempat lain.
Dalam hal ini, sejarah perekonomian Kerajaan Byzantium menarik untuk
dipelajari. Byzantium berusaha keras untuk mengumpulkan emas dengan melakukan
ekspor komoditasnya sebanyak mungkin ke negara-negara lain dan berusaha
mencegah impor dari negara-negara lain agar dapat mengumpulkan uang emas
sebanyak-banyaknya.
Tetapi
apa yang kemudian terjadi, pada akhirnya orang-orang harus makan, membeli
pakaian, mengeluarkan biaya untuk transportasi, serta juga menikmati hidup
sehingga mereka akan membelanjakan uang (kekayaan) yang dikumpulkannya tadi
sehingga ahirnya malah menaikkan tingkat harga komoditasnya sendiri. Spanyol
setelah era Conquistadores juga mengalami hal yang sama, begitu juga
dengan Inggris setelah perang dengan Napoleon. Pada masa kini, terutama setelah
era kapitalisme dimulai, masalah yang sama tetap menjadi perbedaan para ekonom
dan otoritas keuangan.
Apa
yang menyebabkan semua itu terjadi, tidak ada satu sebab utama yang dapat
disalahkan. Semuanya adalah akibat gabungan dari penurunan produksi pertanian,
pajak yang berlebihan, depopulasi, manipulasi pasar, high labor cost, pengangguran, kemewahan yang amat berlebihan,
dan sebab-sebab yang lainnya, seperti perang yang berkepanjangan,embargo dan
pemogokan pekerja.[1]
Teori Inflasi Konvensional
Inflasi
adalah proses meningkatnya harga-harga barang secara umum dan terus menerus (continue)
berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar
yang memicu konsumsi bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya
ketidaklancaran distribusi barang.[2]
Definisi
inflasi oleh para ekonom modern adalah kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai
unit perhitungan moneter) terhadap barang-barang atau komoditas dan jasa.
Sebaliknya, jika yang terjadi adalah penurunan unit perhitungan moneter
terhadap baramg-barang atau komoditas dan jasa didefinisikan sebagai deflasi (deflation).[3]
Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dari tngkat harga secara umum.
Pada
umumnya, otoritas yang bertanggung jawab dalam mencatat statistik perekonomian
suatu negara menggunakan Consumer Price
Index atau CPI dan Producer Price
Index atau PPI sebagai pengukur
tingkat inflasi. Hanya saja, kedua metode pengukuran tersebut mempunyai
kelemahan-kelemahan, yang salah satunya adalah karena menggunakan kumpulan yang
mewakili sebuah subset dari seluruh
barang dan jasa yang diproduksi oleh keseluruhan perekonomian, sehingga index harga tersebut tidak merefleksikan
secara akurat seluruh perubahan harga yang terjadi.
Para ekonom cenderung lebih senang menggunakan Implicit Gross Domestic Product Deflator atau GDP Deflator untuk melakukan pengkuran tingkat inflasi. Untuk mengetahui apa dan bagaimana inflasi, perlu dipahami bahwa uang mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut dalam perekonomian diantaranya adalah:
1.
Media pertukaran.
2.
Pengukur nilai
3.
Unit perhitungan dan akuntansi
4.
Penyimpan nilaI.
5.
Instrumen terms of payment.[4]
Sedangkan
menurut Sadono Sukirno, dalam bukunya Makro
Ekonomi (2011), menyebutkan fungsi uang diantaranya sebagai berikut:
1.
Untuk melancarkan kegiatan tukar
menukar.
2.
Untuk menjadi satuan nilai
3.
Untuk ukuran bayaran yang ditunda.
4.
Sebagai alat penyimpan nilai.[5]
Menurut Ekawarman dan Fahruddiansyah
Muslim, dalam bukunya Pengantar Teori Ekonomi Makro (2010), inflasi dapat
digolongkan sebagai berikut:
1.
Penggolongan didasarkan pada parah
tidaknya infasi.
a)
Inflasi ringan (dibawah 10% per tahun)
b) Inflasi
sedang (antara 10-30% per tahun)
c)
Inflasi berat (antara 30-100% per
tahun)
d) Hiperinflasi (diatas 100% per tahun)
2.
Penggolongan didasarkan pada sumber
penyebabnya.
a)
Inflasi permintaan yaitu inflasi yang
timbul karena permintaan masyarakat akan barang terlalu kuat. Inflasi ini
disebut demand pull inflation.
b) Inflasi
biaya yaitu inflasi ini timbul karena kenaikan ongkos produksi. Inflasi ini
disebut cost push inflation atau supply inflation.
c)
Inflasi campuran yaitu gabungan dari
kedua kombinasi antara tarikan permintaan dan dorongan biaya.
3.
Penggolongan inflasi yang didasarkan
pada asalnya.
a)
Inflasi yang berasal dari dalam negeri
(domestic inflation) yaitu inflasi ini semata-mata disebabkan dari dalam
negeri. Adapun penyebabnya antara lain misalnya karena defisit anggaran belanja
yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, kenaikan upah, gagal panen, dan
lain-lain.
b) Inflasi
yang berasal dari luar negeri (imported infaltion) yaitu inflasi yang
disebabkan karena naiknya harga barang-barang import. Hal ini terjadi karena
biaya produksi di luar negeri tinggi atau karena adanya kenaikan tarif import
barang.[6]
[1] Adiwarman
Azwar Karim, Ekonomi Makro Islam, edisi ketiga, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), hlm.133.
[2] Ekawarman dan
Fahruddinsyah, Pengantar Teori Ekonomi Makro, (Jakarta: Gaung Persada,
2010), hlm. 152.
[3] Adiwarman Azwar Karim, ibid, hlm.135.
[4] Ibid,
hlm.136.
[5] Sadono
Sukirno, Makro Ekonomi: Teori Pengantar, Edisi
Ketiga, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 268.
[6] Ekawarman dan Fahruddinsyah, Pengantar Teori Ekonomi Makro, ibid, hlm.152.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar