Sabtu, 15 Agustus 2020

INFLASI (STABILITAS UANG DOMESTIK)

 

Sejarah Inflasi

 

Emas memberikan nilai pada suatu mata uang dan juga akseptabilitas di tempat lain. Dalam hal ini, sejarah perekonomian Kerajaan Byzantium menarik untuk dipelajari. Byzantium berusaha keras untuk mengumpulkan emas dengan melakukan ekspor komoditasnya sebanyak mungkin ke negara-negara lain dan berusaha mencegah impor dari negara-negara lain agar dapat mengumpulkan uang emas sebanyak-banyaknya.

Tetapi apa yang kemudian terjadi, pada akhirnya orang-orang harus makan, membeli pakaian, mengeluarkan biaya untuk transportasi, serta juga menikmati hidup sehingga mereka akan membelanjakan uang (kekayaan) yang dikumpulkannya tadi sehingga ahirnya malah menaikkan tingkat harga komoditasnya sendiri. Spanyol setelah era Conquistadores  juga mengalami hal yang sama, begitu juga dengan Inggris setelah perang dengan Napoleon. Pada masa kini, terutama setelah era kapitalisme dimulai, masalah yang sama tetap menjadi perbedaan para ekonom dan otoritas keuangan.

Apa yang menyebabkan semua itu terjadi, tidak ada satu sebab utama yang dapat disalahkan. Semuanya adalah akibat gabungan dari penurunan produksi pertanian, pajak yang berlebihan, depopulasi, manipulasi pasar, high labor cost,  pengangguran, kemewahan yang amat berlebihan, dan sebab-sebab yang lainnya, seperti perang yang berkepanjangan,embargo dan pemogokan pekerja.[1]

 

Teori Inflasi Konvensional

 

Inflasi adalah proses meningkatnya harga-harga barang secara umum dan terus menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.[2]

Definisi inflasi oleh para ekonom modern adalah kenaikan yang menyeluruh  dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit perhitungan moneter) terhadap barang-barang atau komoditas dan jasa. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah penurunan unit perhitungan moneter terhadap baramg-barang atau komoditas dan jasa didefinisikan sebagai deflasi (deflation).[3]

Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dari tngkat harga secara umum. 

Pada umumnya, otoritas yang bertanggung jawab dalam mencatat statistik perekonomian suatu negara menggunakan Consumer Price Index atau CPI dan Producer Price Index  atau PPI sebagai pengukur tingkat inflasi. Hanya saja, kedua metode pengukuran tersebut mempunyai kelemahan-kelemahan, yang salah satunya adalah karena menggunakan kumpulan yang mewakili sebuah subset dari seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh keseluruhan perekonomian, sehingga index harga tersebut tidak merefleksikan secara akurat seluruh perubahan harga yang terjadi.

Para ekonom cenderung lebih senang menggunakan Implicit Gross Domestic Product Deflator atau GDP Deflator untuk melakukan pengkuran tingkat inflasi. Untuk mengetahui apa dan bagaimana inflasi, perlu dipahami bahwa uang mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut dalam perekonomian diantaranya adalah:

 

1.    Media pertukaran.

2.    Pengukur nilai

3.    Unit perhitungan dan akuntansi

4.    Penyimpan nilaI.

5.    Instrumen terms of payment.[4]

 

Sedangkan menurut Sadono Sukirno, dalam bukunya Makro Ekonomi (2011), menyebutkan fungsi uang diantaranya sebagai berikut:

 

1.    Untuk melancarkan kegiatan tukar menukar.

2.    Untuk menjadi satuan nilai

3.    Untuk ukuran bayaran yang ditunda.

4.    Sebagai alat penyimpan nilai.[5]

 

Menurut Ekawarman dan Fahruddiansyah Muslim, dalam bukunya Pengantar Teori Ekonomi Makro (2010), inflasi dapat digolongkan sebagai berikut:

1.    Penggolongan didasarkan pada parah tidaknya infasi.

 

a)   Inflasi ringan (dibawah 10% per tahun)

b)  Inflasi sedang (antara 10-30% per tahun)

c)   Inflasi berat (antara 30-100% per tahun)

d)  Hiperinflasi (diatas 100% per tahun)

 

2.    Penggolongan didasarkan pada sumber penyebabnya.

 

a)   Inflasi permintaan yaitu inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan barang terlalu kuat. Inflasi ini disebut demand pull inflation.

b)  Inflasi biaya yaitu inflasi ini timbul karena kenaikan ongkos produksi. Inflasi ini disebut cost push inflation atau supply inflation.

c)   Inflasi campuran yaitu gabungan dari kedua kombinasi antara tarikan permintaan dan dorongan biaya.

 

3.    Penggolongan inflasi yang didasarkan pada asalnya.

 

a)   Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation) yaitu inflasi ini semata-mata disebabkan dari dalam negeri. Adapun penyebabnya antara lain misalnya karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, kenaikan upah, gagal panen, dan lain-lain.

b)  Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported infaltion) yaitu inflasi yang disebabkan karena naiknya harga barang-barang import. Hal ini terjadi karena biaya produksi di luar negeri tinggi atau karena adanya kenaikan tarif import barang.[6]

 



[1] Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Makro Islam, edisi ketiga, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), hlm.133.

[2] Ekawarman dan Fahruddinsyah, Pengantar Teori Ekonomi Makro, (Jakarta: Gaung Persada, 2010), hlm. 152.

[3] Adiwarman Azwar Karim, ibid, hlm.135.

[4] Ibid, hlm.136.

[5] Sadono Sukirno, Makro Ekonomi: Teori Pengantar, Edisi Ketiga, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 268.

 

[6] Ekawarman dan Fahruddinsyah, Pengantar Teori Ekonomi Makro, ibid, hlm.152.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar